Tak banyak penikmat musik yang menyukai genre musik blues. Di Indonesia
sendiri, musik blues bisa dibilang masih bayi dibanding dengan musik
jazz dan genre musik lainnya. Padahal konon, akar dari semua genre musik
di dunia bermula dari musik blues ini.
Kota Bandung yang dikenal sebagai gudang musisi juga ikut punya andil
dalam perkembangan musik blues di Indonesia. Eksistensi musik blues di
Bandung saat ini terselamatkan oleh sebuah komunitas bernama Bandung
Blues Society (BBS).
Ide awal pembentukan komunitas ini lahir
dari Almarhum Miko 'Protonema'. Pada awalnya ia ingin membuat suatu
komunitas musik di Bandung yang menjembatani antara musisi senior dengan
musisi-musisi baru.
"Musisi-musisi di Bandung itu kan
bertebaran, dia ingin menjembatani itu. Waktu itu bukan hanya musisi
blus saja, tapi semua genre musik," ujar lucky Kusuma, Pimpinan Bandung
Blus Society kepada detikbandung.
Sampai akhirnya, komunitas
musik tersebut mengkerucut menjadi komunitas yang lebih fokus kepada
musik blues. Pada 8 Maret 2008, mereka membuat sebuah acara pertunjukan
musik yang menjadi cikal bakal BBS ini.
"Kenapa jadi komunitas
blues karena musik blues itu akar dari musik pop, dan semua jenis musik.
Waktu bikin pertunjukan pertama, kita ada sharing, ada clinic. Saat itu
band yang ikut tidak semua band blues, tapi kebanyakan mengarah kesitu
(blues)," terang Lucky.
Sejak saat itu, aktivitas rutin mereka
gelar setiap satu bulan sekali. Mereka selalu membuat pertunjukan dan
sharing soal musik blues di Bumi Sangkuriang, Jalan Ki Putih,
Ciumbuleuit Bandung.
Sayang, aktivitas mereka terhenti mereka
terhenti di tahun 2010. Pertunjukan blues tidak lagi digelar di Bumi
Sangkuriang. Sejak saat itu mereka mengenalkan komunitas blues melalui
kampus-kampus.
"Kita sekarang arahnya lebih kepada mengambil
talenta muda yang ada di Bandung. Waktu masih di Bumi Sangkuriang kita
menyediakan stage untuk mereka tampil," kata Lucky.
Siapapun bisa
bergabung bersama BBS ini, sistem rekrutmen mereka juga tidak kaku.
Tidak ada formulir pendaftaran untuk bergabung bersama komunitas ini,
bermodal menyukai musik blues, atau ingin mengenal musik blues, bisa
bergabung dengan mereka.
"Kita selalu membuka pintu untuk
siapapun yang ikut aktif. Karena pada dasarnya saat ini kita masih
gerilya. Kita belum bisa ngasih apa-apa, semua dikerjakan dengan
sukareal. Sejak berdiri tahun 2008, kita berjalan tanpa modal," papar
Lucky.
Tak bisa dihitung berapa anggota komunitas BBS ini. Karena
sistem keanggotaan tidak tertulis secara administratif. Namun menurut
Lucky, sejak tahun 2008 hingga saat ini, sudah ada 25 band yang lahir
dari komunitas ini.
"Kalau bisa dihitung dari 2008 ada 25 band
blues di Bandung, walaupun yang aktif hanya sekitar lima atau enam,"
rinci Lucky sambil menyebut band-band tersebut mayoritas usia mahasiswa.
Kelima
band yang masih aktif tersebut di antaranya 'Ginda and The Whites
Flowers, 'Ogoy and 24 Hours Blues, Uncle Traff, dan lainnya.
"Kalau
untuk yang senior, yang masih utuh secara band sudah jarang. Tapi
secara personal, playernya masih banyak di Bandung. Kebanyakan nge-jam
saja, tidak fokus membentuk band," papar Lucky.
Pada awal tahun
2009, mereka sudah mempersiapkan untuk membuat album kompilasi. Namun
karena kesulitan menembus jalur major, akhirnya album tersebut tidak
sempat dirilis ke pasaran.
"Karena mungkin ada berbagai macam
pertimbangan, salah satunya duit. Kalau mau ke major, musik kita ini
bisa diterima dan balik modal tidak?! Sementara kalau melalui jalur
indie, modalnya harus kuat," ujar Lucky.
Menurut Pengurus BBS
lainnya, Yogi Ogoy, sebetulnya di Bandung sangat mudah mengajak pecinta
musik, terutama anak muda untuk mau mengapresiasi musik blues. Hanya
saja saat ini terkendala fasilitas pendukung, seperti sponsor dan tempat
untuk menggelar.
"Kalau ada space buat kita berekspresi, ada
acara yang sifatnya kontinuitas, orang-orang akan ngeuh sama musik
blues," kata Ogoy.
Saat BBS masih rutin menggelar acara di Bumi
Sangkuriang 3 tahun lalu, menurut Ogoy, sambutan masyarakat pecinta
musik di Bandung cukup baik.
"Waktu kita adakan kegiatan reguler, yang datang itu bisa 150 sampai 200 orang," jelas Ogoy.
Ogoy
berpendapat blues di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari BBS. Tahun
2009 hingga 2010, banyak acara-acara blues yang pemicunya adalah BBS.
"Ketika
komunitas blues muncul di Bandung. Kota-kota lain juga bermunculan
seperti di Jogja, Medan, Makassar, dan Bali," terang Ogoy.
Ina
Blues juga kerap meminta BBS untuk menyaring band-band blues yang akan
diikutsertakan dalam Jakarta Blues Festival. "Ina Blues pernah minta
kita untuk menyaring band sampai empat kali," imbuh Ogoy.
Menurut
Ogoy, keberadaan BBS secara tidak lagsung mengubah ekspektasi
masyarakat tentang musik blues. "Kalau dulu anggapannya musik blues itu
hanya orang tua saja yang mendengarkan. Sekarang banyak anak muda yang
suka blues dan selalu hadir di event kita. Sepertu Gugun Blues Shelter
dulu sempet ke kita juga. Hampir semua band blues yang menjadi
headliners pernah manggung di BBS," kata Ogoy bangga.
Jakarta
Blues Festival tahun ini, Bandung juga mengirimkan musisi blues-nya
yakni 'Ginda and The Whites Flowers' dan 'Trias Akustika'.
Sebagai
pengurus komunitas BBS, Lucky dan Ogoy berharap eksistensi musik blues
di Bandung terus berkembang, dan ada pihak sponsor yang mau menyokong
dana kegiatan mereka.
"Harapannya pengen eksis terus berkarya di
jalur musik blues, dan ada yang mau nampung kita berkarya," ujar Ogoy
yang diamini Lucky.
