Kamis, 26 Januari 2012

buat para penggemar musik blues

Tak banyak penikmat musik yang menyukai genre musik blues. Di Indonesia sendiri, musik blues bisa dibilang masih bayi dibanding dengan musik jazz dan genre musik lainnya. Padahal konon, akar dari semua genre musik di dunia bermula dari musik blues ini.

Kota Bandung yang dikenal sebagai gudang musisi juga ikut punya andil dalam perkembangan musik blues di Indonesia. Eksistensi musik blues di Bandung saat ini terselamatkan oleh sebuah komunitas bernama Bandung Blues Society (BBS).

Ide awal pembentukan komunitas ini lahir dari Almarhum Miko 'Protonema'. Pada awalnya ia ingin membuat suatu komunitas musik di Bandung yang menjembatani antara musisi senior dengan musisi-musisi baru.

"Musisi-musisi di Bandung itu kan bertebaran, dia ingin menjembatani itu. Waktu itu bukan hanya musisi blus saja, tapi semua genre musik," ujar lucky Kusuma, Pimpinan Bandung Blus Society kepada detikbandung.

Sampai akhirnya, komunitas musik tersebut mengkerucut menjadi komunitas yang lebih fokus kepada musik blues. Pada 8 Maret 2008, mereka membuat sebuah acara pertunjukan musik yang menjadi cikal bakal BBS ini.

"Kenapa jadi komunitas blues karena musik blues itu akar dari musik pop, dan semua jenis musik. Waktu bikin pertunjukan pertama, kita ada sharing, ada clinic. Saat itu band yang ikut tidak semua band blues, tapi kebanyakan mengarah kesitu (blues)," terang Lucky.

Sejak saat itu, aktivitas rutin mereka gelar setiap satu bulan sekali. Mereka selalu membuat pertunjukan dan sharing soal musik blues di Bumi Sangkuriang, Jalan Ki Putih, Ciumbuleuit Bandung.

Sayang, aktivitas mereka terhenti mereka terhenti di tahun 2010. Pertunjukan blues tidak lagi digelar di Bumi Sangkuriang. Sejak saat itu mereka mengenalkan komunitas blues melalui kampus-kampus.

"Kita sekarang arahnya lebih kepada mengambil talenta muda yang ada di Bandung. Waktu masih di Bumi Sangkuriang kita menyediakan stage untuk mereka tampil," kata Lucky.

Siapapun bisa bergabung bersama BBS ini, sistem rekrutmen mereka juga tidak kaku. Tidak ada formulir pendaftaran untuk bergabung bersama komunitas ini, bermodal menyukai musik blues, atau ingin mengenal musik blues, bisa bergabung dengan mereka.

"Kita selalu membuka pintu untuk siapapun yang ikut aktif. Karena pada dasarnya saat ini kita masih gerilya. Kita belum bisa ngasih apa-apa, semua dikerjakan dengan sukareal. Sejak berdiri tahun 2008, kita berjalan tanpa modal," papar Lucky.

Tak bisa dihitung berapa anggota komunitas BBS ini. Karena sistem keanggotaan tidak tertulis secara administratif. Namun menurut Lucky, sejak tahun 2008 hingga saat ini, sudah ada 25 band yang lahir dari komunitas ini.

"Kalau bisa dihitung dari 2008 ada 25 band blues di Bandung, walaupun yang aktif hanya sekitar lima atau enam," rinci Lucky sambil menyebut band-band tersebut mayoritas usia mahasiswa.

Kelima band yang masih aktif tersebut di antaranya 'Ginda and The Whites Flowers, 'Ogoy and 24 Hours Blues, Uncle Traff, dan lainnya.

"Kalau untuk yang senior, yang masih utuh secara band sudah jarang. Tapi secara personal, playernya masih banyak di Bandung. Kebanyakan nge-jam saja, tidak fokus membentuk band," papar Lucky.

Pada awal tahun 2009, mereka sudah mempersiapkan untuk membuat album kompilasi. Namun karena kesulitan menembus jalur major, akhirnya album tersebut tidak sempat dirilis ke pasaran.

"Karena mungkin ada berbagai macam pertimbangan, salah satunya duit. Kalau mau ke major, musik kita ini bisa diterima dan balik modal tidak?! Sementara kalau melalui jalur indie, modalnya harus kuat," ujar Lucky.

Menurut Pengurus BBS lainnya, Yogi Ogoy, sebetulnya di Bandung sangat mudah mengajak pecinta musik, terutama anak muda untuk mau mengapresiasi musik blues. Hanya saja saat ini terkendala fasilitas pendukung, seperti sponsor dan tempat untuk menggelar.

"Kalau ada space buat kita berekspresi, ada acara yang sifatnya kontinuitas, orang-orang akan ngeuh sama musik blues," kata Ogoy.

Saat BBS masih rutin menggelar acara di Bumi Sangkuriang 3 tahun lalu, menurut Ogoy, sambutan masyarakat pecinta musik di Bandung cukup baik.

"Waktu kita adakan kegiatan reguler, yang datang itu bisa 150 sampai 200 orang," jelas Ogoy.

Ogoy berpendapat blues di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari BBS. Tahun 2009 hingga 2010, banyak acara-acara blues yang pemicunya adalah BBS.

"Ketika komunitas blues muncul di Bandung. Kota-kota lain juga bermunculan seperti di Jogja, Medan, Makassar, dan Bali," terang Ogoy.

Ina Blues juga kerap meminta BBS untuk menyaring band-band blues yang akan diikutsertakan dalam Jakarta Blues Festival. "Ina Blues pernah minta kita untuk menyaring band sampai empat kali," imbuh Ogoy.

Menurut Ogoy, keberadaan BBS secara tidak lagsung mengubah ekspektasi masyarakat tentang musik blues. "Kalau dulu anggapannya musik blues itu hanya orang tua saja yang mendengarkan. Sekarang banyak anak muda yang suka blues dan selalu hadir di event kita. Sepertu Gugun Blues Shelter dulu sempet ke kita juga. Hampir semua band blues yang menjadi headliners pernah manggung di BBS," kata Ogoy bangga.

Jakarta Blues Festival tahun ini, Bandung juga mengirimkan musisi blues-nya yakni 'Ginda and The Whites Flowers' dan 'Trias Akustika'.

Sebagai pengurus komunitas BBS, Lucky dan Ogoy berharap eksistensi musik blues di Bandung terus berkembang, dan ada pihak sponsor yang mau menyokong dana kegiatan mereka.

"Harapannya pengen eksis terus berkarya di jalur musik blues, dan ada yang mau nampung kita berkarya," ujar Ogoy yang diamini Lucky.